SINOPSIS HABIBIE DAN AINUN
Cerita
ini mengisahkan romantisnya percintaan antara sepasang anak manusia,
Bacharuddin Jusuf Habibie (Reza Rahadyan) dan Hasri Ainun Habibi (Bunga Citra
Lestari). Ainun yang sangat cantik dan menawan membuat banyak pria menyukainya.
Pria-pria yang menyukainya bukanlah pria sembarangan.
Habibie
dan Ainun pun menikah pada tanggal 12 Mei 1962 dan Ainun pun dibawa oleh
Habibie ke Jerman karena Habibie hendak bekerja dan sekolah lagi di sana.
Kehidupan rumah tangga mereka tidak begitu mudah. Mereka merintis kehidupan
rumah tangga benar-benar dari bawah. Mereka tinggal di sebuah flat yang sangat
kecil dan karena hidup yang pas-pasan. Seketika waktu Habibie terpaksa pulang
ke flat-nya dari tempat ia bekerja dengan berjalan kaki di tengah dinginnya
salju sampai sepatunya bolong.
Ainun
sempat putus asa dengan kehidupan rumah tangganya, tetapi Habibie berjanji pada
Ainun bahwa akan mebawa cinta sejatinya pada sebuah kebahagiaan yang dinamainya
cahaya. Habibie memang terbukti orang jenius. Ia berhasil meniti karirnya
dengan cemerlang di Jerman. Ia memiliki sebuah cita-cita yang tinggi. Ia mau
mengabdikan dirinya pada Republik Indonesia yaitu membuat pesawat terbang
buatan bangsa sendiri, dan hendak mempersembahkan pesawat tersebut pada cinta
sejatinya, Ainun.
Habibi
terus berusaha untuk meraih cita-citanya. Tiada lelah, ia membuat pesawat
terbang seri N 250 yang diberi nama Gatotkoco. Dan Ainun pun tak kalah
lelahnya, terus mendukung suami tercintanya, Habibie. Ia selalu telaten
menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan oleh Habibie, walau tatkala mereka
bertengkar kecil karena Habibi yang keras kepala terkadang melawan atau tidak
mendengarkan perkataan Ainun. Pada tahun 1998, Habibie diangkat menjadi
presiden Republik Indonesia menggantikan mantan presiden Soeharto, dan hanya
menjabat selama satu tahun. Pekerjaan dan jabatannya sebagai seorang pemimpin
Negara menyita waktunya, waktu untuk dirinya sendiri dan bahkan waktu untuk
keluarganya. Ainun pun khawatir jikalau suaminya akan jatuh sakit karena
kurangnya waktu untuk istirahat, padahal pada saat yang bersamaan Ainun pun
sedang sakit.
Ainun
tidak mau suaminya menjadi khawatir kepadanya, sehingga Ainun menyembunyikan
penyakitnya. Penyakit Ainun pun semakin parah. Seketikanya Habibie tahu bahwa
istrinya mengidap penyakit yang cukup kronis, Habibie dengan segera menelepon
rumah sakit di Jerman dan segera memboyong istrinya ke Jerman untuk melakukan
pengobatan di sana. Ainun mengidap penyakit kanker ovarium/rahim. Dan Ainun pun
menjalani operasi yang tidak hanya sekali, tapi sampai sembilan kali. Seorang
sahabat Ainun, berkata pada Habibie untuk mempersiapkan pemakaman bagi Ainun,
tetapi Habibie marah dan kemudian berkata bahwa istri tercinta belum mati dan
ia akan melakukan apapun asal Ainun bertahan.
Pada
satu ketika, Habibie melihat ada ketakutan di wajah Ainun, Habibie menanyakan
ketakutan apa yang dirasakan oleh istrinya itu. Ketakutan akan segala alat yang
melekat pada tubuhnya dan sekeliling ruangannya atau ketakutan akan kesehatan
Habibie, dan Ainun pun mengiyakan bahwa ia memang khawatir , takut akan
kesehatan Habibie. Segala upaya dan usaha telah dilakukan. Ainun tak lagi
sadarkan dirinya. Habibie pun melantukan doanya bagi Ainun, yang pada akhirnya
menghantarkan Ainun pada peristirahatan kekalnya. Ainun meninggal dunia di
Munchen, Jerman, pada tanggal 22 Mei 2010 dan diterbangkan ke Jakarta pada
tanggal 24 Mei 2010 dan di makamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, pada
tanggal 25 Mei 2010. Mereka dipisahkan oleh maut. Kisah cinta kurang lebih 48
tahun tidak di nodai oleh pengkhianatan. Kesetiaan senantiasa menyelimuti dan
menuntun kisah cinta mereka. Habibie mengatakan bahwa ini hanyalah perpisahan
sementara karena Habibie pun nantinya akan kembali bersama dengan Ainun.

No comments:
Post a Comment